SELAMAT DATANG DI BLOG TELECENTER MUNENG

Blog Archive

Geliat P. Sariman

Minggu, 21 Maret 2010

Geliat Pak Sariman "Ketidak Sengajaan Itu . . . . . . . "



Sudah menjadi hobby dari bapak Sariman ketika suntuk hinggap dipecahkannya rasa tersebut dengan bertandang ke ladang atau mengunjungi ke sawah miliknya. Kegiatan yang sangat simpel ini membawa dampak yang menyenangkan bagi beliau. Dengan melihat tanaman yang hijau, segar serta sehat hilanglah rasa suntuk, capek bahkan pusing akibat pekerjaan atau permasalahan yang dirasa ketika melakukan berbagai aktifitas di lingkungannya (paling tidak begitulah yang diungkapkan pak Sariman ketika kami berkunjung dan berbincang santai ke rumahnya). Maklum setelah pensiun dari kesibukan belajar mengajarnya (guru MTsN), beliau juga disibukkan dengan beragam aktifitas sosial di desa dan bahkan kecamatan dimana beliau tinggal. Tak lepas dari beberapa kepercayaan sebagai pengurus inti di koperasi kecamatan sampai pada kabupaten pernah dia sandang. Dan sekarang masih juga aktif meski usia yang telah menginjak 68 tahun dalam kepengurusan Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA) di tingkat kecamatan dari tempat tinggalnya, selain sebagai ketua kelompok tani Tirto Langeng di dusunnya, dusun Kenongo Rejo desa Telagan.

Adalah Pilangkenceng, kecamatan yang membawahi 18 desa termasuk di dalamnya desa Muneng (tempat adanya Telecenter) serta desa Tegalan (desanya pak Sariman), yang ikut dalam wilayah kabupaten Madiun. Salah satu kabupaten -selain kabupaten Lumajang- yang kebetulan terkena proyek percontohan PePP dengan ICT4PR-nya kerjasama Bappenas dengan UNDP untuk penerapan di wilayah Indonesia dan dengan pihak BPDE Jatim untuk wilayah propinsi Jawa Timur untuk tahun 2005 - 2006 ini. Sedikit tentang Telecenter Muneng Madiun, berada dan dikelola oleh kelompok tani Madurasa desa Muneng yang tercatat pernah menjuarai di tingkat nasional tentang pertanian agribis di tahun 2002 lalu. Kelompok tani ini juga sudah berkembang menjadi koperasi tani dan kemudian mendapat kepercayaan dari Bappenas dan BPDE untuk mengelola Telecenter, suatu program yang menggunakan ICT dalam upaya mengentas kemiskinan.

Kembali lagi ke pak Sariman, berawal dari kegemarannya melepaskan lelah dan penat dengan mengunjungi sawahnya akhirnya mulai terbersit dalam pikiran pak Sariman untuk mencoba-coba dalam hal perbaikan akan tanamannya. Menurut pengamatan pak Sariman, menurunnya hasil dari tanaman padi di wilayahnya dikarenakan tidak diperhatikan dengan lebih teliti serta serius akan lahan sawah itu sendiri. Pemikirannya di landasi pada rusaknya tanah karena terus menerus menerima pupuk kimia. Sedang unsur hara di dalam tanah semakin habis dikarenakan para petani (termasuk dirinya sendiri) kurang memperhatikan kesuburan akan tanahnya. Para petani lebih terlena dengan memperhatikan akan kesuburan tanaman padinya. Jika tanpa diimbangi dengan mengembalikan unsur hara yang telah hilang diyakini oleh beliau kelak tanah akan tambah sulit untuk digarap. Selain membutuhkan pupuk kimia semakin banyak (karena unsur hara tanah yang hilang) juga akan semakin berat dalam hal pengolahannya, belum lagi hama yang semakin macam ragamnya dan terus saja bertambah banyak. Artinya akan memerlukan pengeluaran yang besar oleh petani, padahal hasil jual dari panenannya sangat tidak layak bila dibanding dengan penggarapannya.

Dari dasar itulah kemudian pak Sariman menemukan beberapa konklusi yang diteruskan dalam praktek solusi dari hipotesa yang diperolehnya. Kebiasaan petani (pada umumnya petani daerahnya) menumpuk jerami di beberapa tempat pada lahan sawanya sehabis masa panen musim penghujan, “kalo tidak gitu biasanya dibakar begitu saja”, begitu ungkap beliau ketika kami minta untuk menceritakan tentang pengamatannya. Memang di musim penghujan jerami ini tidak begitu dibutuhkan dibanding musim kemarau yang digunakan untuk pakan ternak sapi-sapinya. Kebiasaan inilah yang mengakibatkan banyaknya tikus di sawah (dengan menggunakan tumpukan jerami sebagai tempat persembunyiannya) atau malah lahan menjadi keras karena terkena panas dari pembakaran jerami tersebut.

Diawal upayanya, pak Sariman berusaha mengembalikan kesuburan tanah dengan menggunakan jerami-jerami yang tak digunakan tersebut, dengan membuat hancur jerami (dibusukkan) dan kemudian di kembalikan ke lahan atau ke sawah yang baru saja panen serta akan digarap kembali. Diketemukan cara pembusukan selanjutnya (dari informasi pegawai SLPHT mengenai pembusukkan jerami) dengan memberikan obat alami (EM4) pada jerami. Setelah disemprotkanya EM4 dan ditunggu selama tiga hari maka jerami akan membusuk dan siap dijadikan pupuk alami. Akan tetapi pak Sariman merasa model ini masih terlalu memberatkan, karena jerami yang telah membusuk menjadi bertambah berat, sehingga butuh waktu dan tenaga yang besar untuk meratakan kembali ke lahan sawahnya.

Di tahun selanjutnya pak Sariman merubah cara pembusukkan jerami dengan menyebar dahulu jerami pada lahan sawah secara merata baru disemprot dengan obat alami EM4 sembari diinjak-injak dan diairi secara merata. Cara ini lebih dirasa ringan oleh pak Sariman ketimbang pengalamannya yang pertama dulu, dan dampak yang dirasakan selain tidak ada lagi tumpukan jerami, ada atau diperolehnya pupuk tambahan yang bersifat alami dengan upaya penyemprotan EM4 ke jerami ini. Bahkan sekaligus mampu membunuh atau menghilangkan sisa tanaman padi dan pula menghilangkan rumput-rumput baru yang sering mengganggu pertumbuhan tanamn padi kelak.

Begitulah yang dilakukan pak Sariman dari tahun ke tahun dalam pengolahan dan perawatan lahan sawahnya yang menghasilkan peningkatan akan hasil panen padinya sekaligus berdampak pada kemudahan penggarapan lahannya. Untuk tahun 2006 ini sudah memasuki tahun yang ke VI dari upaya pengembalian unsur hara tanah atau mengembalikan kesuburan tanah secara alami pada lahan miliknya seluas 1,5 hektar. Secara perbandingan dari tahun ke tahun terjadi perubahan :

Dari tabel di atas menunjukkan penurunan pada penggunaan pupuk Urea dari tahun ke tahunnya, demikian juga pada penggunaan pupuk Phonskanya. Di sisi lain bila dilihat secara menyeluruh terjadi peningkatan pada hasil panennya. Bila di tahun ke V terjadi sedikit penurunan hal tersebut lebih diakibatkan pada stok air yang kurang pada waktu itu (perubahan musim yang tidak lagi bisa diperhitungkan). Yang jelas hal ini membawa kebanggan tersendiri pada diri pak Sariman akan keberhasilan uji cobanya.

“Jangan dikira ini mudah”, begitu pesan pak Sariman melanjutkan cerita pengalamannya karena banyak tantangan yang dirasa ketika menerapkan penggunaan EM4 di lahan sawah miliknya. Ejekan dan pertanyaan yang mengarah pada hal yang kurang (bahkan tidak) mempercayai hipotesis pak Sariman sering datang dari teman sesama petani di lingkungannya. Tapi pak Sariman memakluminya, bahkan hal itu menjadi semangat tersendiri bagi pak Sariman untuk membuktikan bahwa yang dilakukan ini akan ada manfaatnya. Diakui juga oleh beliau bahwasannya para petani di daerahnya kurang dalam memperhatikan tanah atau lahan yang mereka garap, mereka cenderung lebih memperhatikan tanamannya saja. Padahal tanah itulah yang harus diperhatikan lebih utama, karena kegunaannya lebih bersifat terus menerus sampai anak dan cucu nanti.

Ibaratnya saya itu hanyalah pinjam lahan milik anak cucu saya” tandas pak Sariman, “apa saya akan meninggalkan lahan yang rusak atau sulit dikerjakan untuk anak cucu saya nanti...?”, itulah beberapa alasan pak Sariman ‘getol’ mengupayakan kembalinya unsur hara tanah secara alami, selain mengantisipasi meningkatnya harga-harga pupuk dan menurunnya harga jual gabah yang berkembang di tahun-tahun akhir ini. Ketidak sengajaan yang kemudian menjadikan peningkatan hasil.

Sering kali pak Sariman mendapati sikap kurang mendukung dari petani bahkan sampai PPL berkaitan dalam upayanya mengajak para petani lain untuk berkumpul dan mendiskusikan perihal pertanian sampai pada uji coba alaminya. Hasil yang telah menunjukkan perkembangan itupun masih ada juga yang belum berminat untuk mengikuti jejaknya. Dan ketika dari pihak Telecenter ikut membantu dalam pemberitaan dampak uji cobanya dan juga melengkapi perihal pendokumentasian sampai pada penyebaran informasi tambahan dari akses internet mengenai manfaat penggunaan EM4 (diakses dari situs www.songgolangit.20m.com) barulah membawa dampak besar akan banyaknya warga tani yang ikut menerapkan tebar jerami di lahannya yang kemudian di semprot dengan EM4.

Dulu, pak Sariman menjawab seenaknya ketika ada petani yang bertanya lagi mengapa koq di lahan miliknya menghasilkan lebih banyak ketika panen dan minim hama. “Tak japani....!” begitu jawaban beliau (dalam bahasa indonesianya “tak kasih do’a - do’a...”) karena seringnya mendapat respon yang kurang mengenakkan ketika sudah dijawab dan diterangkan dengan panjang lebar. Ungkapan “masa’ iya...”, atau “mana mungkin..” lebih mengedepan ketimbang menanyakan yang mengarah pada penalaran bertaninya. Tapi sekarang pak Sariman tidak lagi menjawab seperti itu, cukup dengan menjawab dengan ajakan “ayo ke Telecenter Muneng..., di sana akan ada keterangan dan gambar yang lebih jelas mengenai itu semua” begitu selorohnya.

Memang, setelah mendapatkan informasi dari pak Sariman mengenai pengalamannya ini (termasuk dalam success story), kami para pengelola mengarsipkannya dan sekaligus menyiapkannya bila dibutuhkan oleh para petani. Hal itu lebih dirasa mengena oleh petani yang sering ikut mengakses di telecenter Muneng ketimbang melihat atau mengakses pengalaman petani lain di daerah lain pula. Karena mereka beranggapan akan perbedaan lahan dan cuaca yang mendasari keenganan mereka untuk menguji coba atau menerapkan hal yang baru untuk lahannya. “Ini kan dah jelas mas..., jadi nggak perlu diragukan lagi”, begitu ungkapan para petani yang mulai dan sudah menerapkan pengalaman pak Sariman ini. Semoga kami para pengelola Telecenter Muneng akan terus menemukan pak Sariman - pak Sariman lain untuk mendukung perubahan menuju peningkatan dan pemberdayaan masyarakat miskin di pedesaan. Amin... (mas Yak).

Posting Komentar