Sabtu, 20 Maret 2010
Gema TC Muneng sampai di Medan
Sedikit kisah dari kunjungan teman-teman Taiwan ke TC Muneng
By: Team Muneng
”Revolusi di Ujung Cangkul”, begitulah judul dari tajuk yang ada di majalah Tempo edisi Mei 2006 minggu pertama tertanggal 7 bulan itu. Pada berita yang digolongkan pada bagian teknologi dan informasi, (ada pada halaman 16-17) secara global menceritakan perkembangan dunia IT berkaitan dengan usaha pengentasan kemiskinan di daerah pedesaan yang dilaksanakan lewat program PePP proyek kerjasama Bappenas dan UNDP. Terberitakan dalam ulasan majalah Tempo tersebut tentang upaya dari Bappenas dan PBB -lewat UNDP- dalam mendirikan pusat komputer dan internet yang kemudian lebih dikenal dengan istilah telecenter. “Telecenter memang sengaja dibangun untuk memerangi desa merah (desa yang menurut Badan Pusat Statistik memiliki penduduk miskin lebih dari 30 persen)”, itu yang tertulis di sebagian
alenianya. Selanjutnya lebih banyak menceritakan kisah-kisah sukses masyarakat dari keberadaan telecenter di beberapa tempat di jawa seperti Telecenter e-Pabelan (di Magelang Jawa Tengah), Telecenter Muneng di desa Muneng (Madiun) dan Telecenter Semeru di Kertosari (Lumajang, keduanya dari Jawa Timur), total sekarang sudah ada 7 telecenter; jadi 4 lainnya adalah Telecenter Lapulu di Kendari (Sulawesi Tenggara), Telecenter Gorontalo di desa Tuladenggi (Gorontalo) dan Telecenter di Papua, ini persis seperti yang dikemukakan ibu Dinar dalam majalah itu juga.
Beberapa person yang sukses dalam berinovasi (tentunya dengan mengambil informasi di telecenter atau akses internet) juga disajikan di halaman majalah Tempo ini dalam bentuk penggalan kisah searching mereka dengan dibantu pengelola telecenter dalam menjalankan komputer yang tersambung internet. Bahkan ilustrasi dari usaha merekapun juga sedikit terpaparkan, sampai pada alamat situs yang diaksesnya. Seperti pak Sartono dengan situs peternakan sapi dari australia berkaitan dengan upaya penggemukan ternak sapi yang dimilikinya yakni (http://www.genaust.com.au), yang masih dipadu dengan situs dari Batan (http://www.batan.go.id/2001/pil_sapi.html) dan berhasil meramu pil ajaib untuk menambah nafsu
makan sapi-sapinya sehingga dalam tiga bulan bobot sapi sudah bertambah dan memuaskan dalam harga jualnya. Demikian juga dengan pak Sukad atas keberhasilan menerapkan tehnik baru dalam menanam melon. Sampai pada keberhasilan telecenter Semeru di Lumajang yang mampu memasarkan hasil pertaniannya hingga cina dan malaysia.
Ternyata.., dari pemberitaan di majalah Tempo tersebut mendapat respon positif dari beberapa pembacanya. Buktinya di Telecenter Muneng pada hari Rabu siang 31 Mei ‘06 mendapat kunjungan atau tamu dari manca negara, dari Taiwan sodara-sodara... Sekilas perkenalan dengan mereka diketahui bahwa mereka adalah staff dari suatu perusahaan yang bergerak di bidang IT yang sedang mengerjakan program kemanusiaan untuk Aceh (akibat Tsunami 2005 kemarin). Mereka adalah Yamin Ko (director) PT. Logicom Solutions yang berkantor di Medan, terus Dan Shie, Chiau-Hung (administative Officer) Relief Project Spooned by Taipei (R.O.C TAIWAN) Digital Learning Program in Aceh and Medan juga Petter Liao (teacher), didampingi dari ITB bapak Ir. Rio Seto Yudoyono (Head Electronik Manufactoring Laboratory) Inter University Reseach Center on Microelectronics Bandung Institute of Technology Indonesia.
Kunjungan mereka dilatar belakangi dari kisah sukses yang tertulis dan dimuat di majalah Tempo 1 - 7 mei 2006. Mereka langsung menanyakan seputar kegiatan telecenter yang bisa berdampak pada peningkatan pengetahuan sampai pada peningkatan penghasilan di masyarakat. Selain itu mereka juga menanyakan pak Sartono dan pak Sukad serta kelompok lain yang menggunakan telecenter sebagai pusat informasi. Lebih konkrit yang mereka tanyakan adalah proses bagaimana, kapan juga siapa saja yang diajak didalam penyebaran informasi di dan dengan telecenter ini. Saya bersama pengelola lain menjelaskan panjang lebar ke pak Ir Rio Seto dengan menunjukkan gambar dokumen TC ke tamu Taiwan tersebut (karena kami kagak bisa bahasa ingris, apalagi bahasa Mandarin bahkan Taiwan ataupun bahasa Cina.., dan pertanyaan tadi juga tertranslate oleh beliau. Artinya bapak Ir Rio Seto Yudoyono menjadi guide atau perantara diantara kami).
Paling tidak saya menjelaskan poin utama dari kegiatan-kegiatan di Telecenter seperti yang dijelaskan dari pak Zulkfikar di Bandung dulu.
Sampai pada kemudian terjelaskan pula bahwa pengarus utamaan dari program di Telecenter ini adalah menyasar pada masyarakat miskin. Yang berarti masyarakat yang memiliki aktivitas ekonomi seperti petani, buruh tani, pedagang kecil juga usaha home industri yang berbiaya tinggi tapi rendah dalam penghasilannya yang mendapat perhatian lebih. Dengan kegiatan awal pemetaan wilayah bersama masyarakat atau biasa disebut MDS (Mengenal Desa Sendiri) kita bisa mengetahui akan potensinya, selanjutnya juga diketahui akan permasalahan dan akar permasalahannya. Dan melalui Telecenter diharapkan aktivitas mereka (masyarakat miskin pedesaan) bisa lebih produktif dan efisien. Ternyata…, maksud dari kunjungan mas-mas Taiwan ke TC Muneng ini adalah sebagai mandat dari perusahaannya untuk lebih jauh melihat dan belajar dari “keberhasilan” peningkatan masyarakat miskin dengan telecenter (seperti yang diberitakan di majalah Tempo itu). Kemudian mas-mas Taiwan ini akan mencoba mereplikasikannya di Medan dan di Aceh, begitu jelasnya. “Yah semoga aja sukses ya mas”, balas saya.
Selanjutnya si tamu kami ajak ke GPTK (Gabungan Pemuda Terampil dan Kreatif) untuk melihat secara langsung usaha pengembangbiakan ternak jangkrik. Banyak hal yang kami sharringkan dengan beliau-beliau, sampai kemudian mereka memberikan cinderamata berupa kalung keberuntungan yang dibagikan ke para pengelola telecenter Muneng. Ada kemajuan lo dari sedikit waktu kunjungan mereka di Muneng…, mereka sudah bisa bilang “telima kasih...”. MasYakForever

Posting Komentar