SELAMAT DATANG DI BLOG TELECENTER MUNENG

Blog Archive

P. Sukad

Sabtu, 20 Maret 2010

"Ingin berhasil.., itu pasti..!"

Rangkuman tulisan dari pengalaman pak Sukad dengan tanaman Melon Bagian II

Setelah sepakat dalam pembagian tugas yang kami rembugh di telecenter Muneng hingga malam, esok paginya kami berangkat langsung ke sawah tempat pak Sukad menanam Melon. Sebelumnya, pengelola bagian pengembangan masyarakat telah mendapat undangan dari pak Sukad untuk datang dan mengikuti proses dari tanaman melon, langsung datang di lahan. Memang, di tanggal ini 10 Mei ‘05,hari ini…, pagi ini…, saat nanti…, pak Sukad akan memanen tanaman melonnya…! Penetapan panen yang tergolong cepat, karena baru memasuki usia 62 hari (biasanya di panen ketika masuk usia 70 an hari).

Bukanlah suatu kebetulan bahwasannya, perlakuan tanaman melon pak Sukad kali ini mendapat perhatian lebih dari kami (para pengelola TC Muneng). Secara sengaja kami mendokumentasikan perlakuan juga pertumbuhan tanaman melon pak Sukad dengan tulisan dan gambar atau foto. Dari mulai persiapan, awal tanam, perawatan, hingga panen ini nanti, kami juga akan berusaha membanding dari penggunaan pupuk dan pestisida serta tenaga dalam perlakuan tanaman melon kali ini dengan tanaman melon sebelumnya (perlu diingat bahwa dulu kita telah men”sharre”kan kisah pak Sukad yang telah menerapkan hasil dari akses di TC Muneng dengan www.ristek.go.id, dan www.tanindo.co.id untuk budidaya tanaman melon). Kami mempunyai tujuan dengan perhatian lebih yang kami lakukan ke pak Sukad dengan tanaman melon kali ini, yakni; pengalaman yang terjadi di pak Sukad ini bisa secara lebih mudah dan lebih mengena serta lebih meyakinkan dapat kami sebarkan ke petani lain. Hal ini sangat beralasan karena kami melengkapi dengan berbagai photo ketika pak Sukad melakukan perlakuan terhadap tanamannya berikut keterangan yang lebih bersifat membandingkan (antara sebelum menerapkan dari akases TC dan sesudahnya. Juga antara milik pak Sukad dengan tanaman melon milik tetangganya. Kita buat dengan model power point dan video maker.

Setengah tujuh pagi kami (saya infomobiliser dan mas Budi bagian pengembangan masyarakat) sudah berada di sawah lahan milik pak Sukad, dan ternyata sudah berkumpul pak Sukad beserta istrinya dan beberapa tetangga yang siap akan memanen bersama. Kami melihat tanaman melon seluas 0,5 H yang siap panen, sedikit dari bagian lahan ditanami tomat dan kangkung. Terjelaskan oleh pak Sukad setelah saya tanya mengapa koq disisakan lahan untuk ditanami tomat, bahwasannya tanaman tomat itu bisa menghambat penyerangan lalat buah yang biasa menyerang buah diwaktu akan panen. Saya malah diejek pak Sukad karena ketika membuka internet dulu dan mencari pengobatan alternatif dalam menangani lalat buah ditemukan bahwa tanaman tomat mampu mengurangi lalat buah, dan yang menyarikan adalah saya sendiri. Sengaja pula saya membawa buku dari ICT4PR tentang laporan tahunan 2005 dan majalah Tempo edisi 7 Mei 2006 yang sengaja saya beli karena di dalamnya memberitakan perkembangan telecenter dukungan dari UNDP dan Bappenas di indonesia termasuk pula Telecenter Muneng. Ada berita yang mengulas kisah sukses pak Sukad bahkan juga ada gambar pak Sukad dalam pemberitaan tersebut. Berebutlah pak Sukad, sang istri dan juga para tetangga yang ada di situ untuk segera melihat dan membacanya. “Nek ra berhasil ngene mesti ra dimuat nang kene yo mas” (“kalo tidak berhasil dalam terapan tanaman melon ini pasti tidak akan dimuat di majalah ini ya mas”) tanya salah satu tetangga kepada saya. Kayaknya sipenanya sangat membutuhkan jawaban “ya” untuk meyakinkan kepada temannya mengapa koq bisa pak Sukad bisa ditampilkan dalam majalah Tempo (halaman 46-47 dengan judul Revolusi di ujung cangkul dan dalam buku laporan tahunan (halaman 16-17 dengan judul Cerita sukses pak Sukad: irit ongkos produksi, Hasil lebih baik) yang saya bawa itu. Buktinya walaupun saya tidak menjawab (hanya tersenyum) si tetangga pak Sukad yang bertanya itu langsung menjelaskan lagi pada teman disampingnya akan ‘keharusan berhasil’ dalam mengolah lahan sampai pada perlakuan tanaman sambil terus mengamati dan membaca kembali kisah pak Sukad dari majalah serta buku tersebut.

Tidak ada sejam kemudian sudah banyak berdatangan para pekerja pak Sukad yang bertugas memanen buah melon sekaligus membawa ke halaman luas berjarak 200 meter dari lahan tanaman melon tersebut, disitu 2 (dua) buah truk sudah menunggu. Persiapan dimulai, dengan sedikit ritual do’a yang dilengkapi dengan sesajen ayam panggang kami bersama-sama sarapan di dekat lahan melon itu (saya sampai nambah saking enaknya). Sembari sarapan terjadi perbincangan santai diantara kami dengan pak Sukad yang didengarkan bersama semua yang ada di sana. “Dibanding dengan kemarin gimana pak perihal pupuk dan pengobatannya?” tanya saya ke pak Sukad. Dijawab oleh pak Sukad dengan semangat dan panjang lebar, bahkan ada pula yang menanyakan dari petani lain perbandingan penggunaannya dengan tanaman melon sebelumnya. Dalam penulisan di sini sudah saya matrikkan sebagai berikut:

No

Jenis Pupuk atau Pestisida

2004 (∑ guna)

2005 (∑ guna)

2006 (∑ guna)

A.

Benih

4300 biji

6800 biji

7500 biji

B.

Pupuk




1.

Bokashi

-

-

1,5 ton

2.

TSp

4 sak

6 sak

4 sak

3.

ZA

5 sak

7 sak

5 sak

4.

KcL

1 sak

2 sak

1 sak

5.

NpK

1 sak

2 sak

2 sak

6.

Dolomit

8 sak

6 sak

-

7.

Ponska

-

3 sak

-

8.

Saprodap

-

-

2 sak

C.

Pestisida




1.

Furadan

5 kg

1 kg

1 kg

2.

Antrakol

3 kg

2 kg

2 kg

3.

Detan

3 botol

2 botol

2 botol

4.

Regen

-

2 botol

-

5.

Renon

-

-

1

6.

Agristik

2

?

2

7.

Redomil

1

?

-

8.

Etrel

?

?

?

9.

DK Boron

3

?

-

D.

Hasil

10 ton

12 ton

13 ton

Keheranan sekaligus bangga terlihat pada pak Sukad dan istrinya juga pada para petani yang datang untuk bersama-sama memanen tanaman melon pak Sukad ini. Diakui oleh pak Sukad sendiri, pernah ada kekhawatiran di hati pak Sukad ketika tanaman melon menginjak usia 39 hari. Bila di lain tempat belum begitu besar buah yang muncul, di pak Sukad ini sudah sebesar kepala bayi. Belum lagi daun yang terus berkembang hijau serta besar-besar. Hama lalat buahpun juga sedikit dibanding yang dulu karena ada tanaman tomat disamping tanaman melon ini. Serta yang paling menyenangkan adalah minimnya hama yang menyerang tanaman ini sehingga minim pula biaya untuk pengobatannya. Dipercayai oleh pak Sukad bahwa ini karena penerapan dan perlakuan yang dia terapkan memang sedikit berbeda daripada yang lain, bahkan dengan miliknya sendiri waktu lalu. Dari persiapan pupuk bokasi, model gundukan tanah, arah lajurnya, serta penerapan pengairannya sangat diperhatikan secara detail oleh pak Sukad. Sampai pada percobaan tanaman tomat dan kangkung sebagai antisipasi biologis tanaman melonnya.

Terjadinya perbedaan di usia panen bila dibandingkan dengan yang dulu juga menjadi keheranan dan kebanggaan tersendiri. Sekarang lebih cepat 10 hari dari 72 hari usia panen melon pak Sukad tahun lalu. Artinya baru usia 62 hari melon sudah harus dipanen, dikarenakan secara fisik memang melon pak Sukad ini sudah menunjukkan untuk dipanen (35% kulit Melon sudah menguning). Dan jika terus menunggu usia 70-an malah tidak bisa dipanen karena malah rusak. Nah, pertanyaan pak Sukad kemudian adalah bagaimana daya tahan melon ini nantinya..? apakah sama kuat dengan yang dulu? Inilah yang perlu diperhatikan pak Sukad selanjutnya. Makanya, untuk mencermati kejadian melonnya ini pak Sukad ikut berangkat ke Jakarta, menjual melon ke pasar Kramatjati (katanya sih Jakarta bagian timur…)

Empat hari dari kepergian pak Sukad ke Jakarta kami mendapatkan kabar bahwasannya ada sekitar 4 ton melon mengalami “kopyor”. Kata mas Budi bagian pengembangan masyarakat TC Muneng yang mendapat informasi dari istri pak Sukad, hal itu karena seringnya tanaman terkena air hujan. Memang, setelah kami mengingat bersama minggu-minggu sebelum panen melon daerah Muneng dan sekitarnya terus menerus diguyur hujan yang lumayan deras. Hal inilah yang menjadikan penyebab beberapa buah rusak karena pengaruh cuaca dingin yang akhirnya buah melon jadi tidak tahan setelah dipetik atau kopyor pada 2-3 hari seusai petik. Ini juga diperkuat dari keterangan pak Sukad yang datang ke Muneng setelah beberapa hari pulang dari Jakarta (harap diingat pak Sukad adalah petani asal desa Babadan kecamatan Pangkur kabupaten Ngawi, suatu desa yang berjarak ± 4-5 km dari TC Muneng. Bila di dalam buku laporan tahunan 2005 terbitan Bappenas dan UNDP dituliskan pak Sukad adalah petani dari Muneng maka ini merupakan ralat dan koreksi dari kami). Pak Sukad membeberkan beberapa temuannya berkaitan dengan rusaknya buah melonnya pada panenan saat ada. Keteledorannya (diakui pak Sukad sendiri) yang tidak begitu mempercayai dari ramalan yang terlihat di internet dengan situs www.jatim.go.id bagian prakiraan cuaca. Hal ini didasari dari berubahnya tampilan situs ini, khususnya pada bagian prakiraan cuaca yang satu tahun dulu menterakan cuaca untuk Nganjuk Sawahan dan sekarang hanya menterakan bagian Nganjuk saja, dengan tambahan info yang berjalan dibagian kanan bawah.


Dahulu, menurut pak Sukad, keterangan dari situs lebih jelas karena langsung menyebut daerah “nganjuk sawahan”, disertai keterangan hujan, terang, mendung ataupun berawan, sedang sekarang menjadikan pak Sukad bingung sehingga pak Sukad tidak begitu menganggapnya. Malahan keterangan dari para pengelola (operator TC) dibantahnya, karena dia yakin dulu tidak seperti itu. Apa yang tertera dengan gambar matahari untuk wilayah nganjuk di situs baru dianggap untuk nganjuk kota, bukan untuk perbatasan Nganjuk dengan kabupaten Madiun. Demikian juga sebaliknya, ketika berawan ataupun hujan, ini yang menjadikan perlakuan tanaman melon yang tidak sesuai dengan kondisi cuacanya. Karena untuk pemupukan dan pengobatan unsur cuaca sangat mempengaruhi, begitu tutur pak Sukad. Selanjutnya dia menerangkan; turunnya hasil panen ini bukan karena tidak berbuahnya tanaman yang ia tanam di lahan seluas 400 m3 ini, dari bibit yang disebar semuanya berbuah, hanya daya tahannya yang tidak bisa lama. Apalagi 3 (tiga) hari berturut-turut hujan deras terjadi di tiap malamnya, ini menjadikan buah melon “mrotol” dari pohonnya (buah lepas sendiri dari tangkainya sebelum dipetik), juga kopyor ketika terbawa ke Jakarta, terguncang-guncang di atas truk. Ini menunjukkan daya tahan buah yang lemah karena pengaruh obat yang tidak tepat penggunaannya mas, seloroh pak Sukad pasrah. Jika kemarin itu saya tebaskan saja (jual borong ke pedagang) tentu saya lebih untung lagi karena tidak menanggung rusaknya melon sesampai di pasar Kramatjati Jakarta sana, begitu ia berandai.

“Itu semua pengalaman yang berharga buat bapak Sukad, dan dari keterangan bapak tadi kita bisa mengambil hikmahnya” timpal mas Bud membesarkan hati pak Sukad. Ia menambahkan lagi, “Keberhasilan itu tidak datang dengan sendirinya, usaha dan usaha tetap diperlukan, dan ketika terjadi suatu kekurangan atau kegagalan dalam keberhasilan bisa dijadikan ilmu untuk penerapan selanjutnya”. Yang jelas di sini pak Sukad sudah mengamati perlakuan yang diberikan ke tanaman melonnya, juga pak Sukad mempunyai pengalaman menjual sendiri melonnya ke Jakarta, walau kali ini tidak besar untungnya. Secara hitung-hitungan kasar setelah kami berdialog dengan pak Sukad dapat kami sajikan perbandingan dari tahun ke tahun sebagai berikut :

Perhitungan (hitungan bulat ke bawah) Untung Rugi dari tanaman Melon pak Sukad

Panen Melon

∑ Lahan

Biaya Produksi

Laba bersih

Tahun 2004

2200 m3

8 juta

8 juta

Tahun 2005

3500 m3

11 juta

12 juta

Tahun 2006

4000 m3

9,5 juta

3 juta *

melon rusak karena kehujanan 3-4 hari sebelum panen

“Untunge ki jek tetep mas, ananging yo kelong sekitar 6 ton kuwi” (untung sih masih tetap saya rasakan mas, tapi berkurang untung saya sekitar 6 ton itu). Bisa kita bayangkan bila 1 buah yang rata-rata mampu mencapai 2,5 kg lebih bisa seharga Rp.3000,- per kilonya, tinggal kalikan aja semuanya, Sekedar tahu saja bahwa, Melon yang dibawa pak Sukad ke Jakarta kali ini ada 11 ton buah.Berkurang dengan yang rusak (4 ton melon “kopyor”) berarti hanya 7 ton, suatu perkiraan yang lepas dari harapan pak Sukad. Akan tetapi pak Sukad tetap berniat untuk mencoba kembali, sekarang pak Sukad akan menanam melon merah (jenis lain dari buah melon) untuk tanaman ke dua setelah panen ini. Keinginan berhasil sangat didambakan oleh pak Sukad seperti panen tanaman Melon dulunya. Dan kami para pengelola Telecenter Muneng tetap bersedia membantu dalam pendokumentasiannya, apalagi model perlakuan tanaman melon pak Sukad yang kami kemas lewat power point dan model video maker (dari mulai persiapan pupuk bokasinya, persiapan dan pengolahan lahannya, penanaman, perawatan hingga panennya) mendapat respon positip dari petani lain. Itu kami ketahui setelah mereka melihat bersama tayangan hasil kami ini, bahkan dari beberapa PPL yang rutin ke telecenter juga memesan dan meminta untuk nantinya diterapkan di kelompok tani binaannya. Itupun masih mengharap kami para pengelola yang mengoperasikan tampilannya (ke LCD). Kamipun masih bertanya ke pak Sukad, “masih ingin menanam melon lagi pak..?”, dia menjawab yakin, “pasti mas.., saya ingin berhasil lagi”. (by: Tim Muneng)

Posting Komentar