SELAMAT DATANG DI BLOG TELECENTER MUNENG

Blog Archive

Pengukuran PH Tanah

Minggu, 21 Maret 2010

PENGUKURAN Ph TANAH

STRATEGI MENGAJAK PETANI KE PERTANIAN ORGANIK

(Cacatan kegiatan dengan kelompok JARKUM, Sabtu, 14 Oktober 2006)


Landasan Teori

pH Tanah merupakan salah satu sifat kimia tanah, banyak petani yang sudah mendengar tentang pH tanah, akan tetapi belum bisa mengerti pentingnya mengetahui pH tanah dan bagaimana cara mengukurnya. Apalagi katanya untuk mengukur pH tanah dibutuhkan alat yang mahal, sehingga petani tidak pernah memiliki kesempatan untuk mengukur langsung pH tanah mereka.

Padahal dengan mengetahui pH tanah yang ada di lahan mereka bisa membangkitkan semangat mereka untuk menuju pada pertanian organik / semi organik. Yang lebih penting adalah bagaimana mereka mau untuk menjaga tingkat kesuburan tanah mereka.

pH tanah menunjukkan sifat keasaman dan alkalinitas tanah, dengan menunjukkan banyaknya konsentrasi ion hidrogen (H+) dalam tanah. Semakin tinggi kadar H+ dalam tanah semakin masam tanah tersebut. pH tanah berkisar antara 0 – 14 dengan pH 7 disebut sebagai pH netral, kurang dari 7 disebut dengan masam dan lebih dari 7 disebut dengan alkalis.

pH tanah di Indonesia umumnya masam berkisar antara 4,0 – 5,5, sehingga tanah dengan pH 6,0 – 6,5 telah dikatakan baik, walaupun sebenarnya agak masam (Sarwono Hardjowigeno dalam Ilmu Tanah, 2003).

Pentingnya mengetahui pH tanah adalah sebagai berikut :

  1. Mengetahui mudah tidaknya unsur-unsur hara dalam tanah diserap oleh tanaman. Unsur hara akan mudah diserap oleh tanaman (akar tanaman) pada pH netral (lihat gambar 1).
  2. Menunjukkan kemungkinan adanya unsur-unsur beracun. Tanah dengan pH masam banyak ditemukan ion-ion Al (Alumunium) yang memfiksasi (mengikat) unsur P, sehingga unsur P sulit untuk diserap oleh tanaman, padahal unsur P berperan pada tanaman akan membantu dalam :
    1. Pembentukan albumin
    2. Pembentukan bunga, buah dan biji
    3. Mempercepat pematangan/penuaan buah / biji
    4. Memperkuat batang agar tidak mudah roboh
    5. Untuk perkembangan akar
    6. Meningkatkan ketahanan terhadap penyakit.
    7. Sebagai bahan pembentukan protein.
  3. Mempengaruhi perkembangan mikro organisme.

- Bakteri akan berkembang baik pada pH lebih dari 5,5 (misalnya bakteri EM 4 yang sangat bermanfaat bagi petani), apabila pH kurang dari itu maka perkembangannya akan terhambat.

- Jamur dapat berkembang baik pada pH dibawah 5,5 dan diatas pH 5,5 jamur harus bersaing dengan bakteri.

Begitu pentingnya kita mengetahui pH tanah bagi petani, sehingga dari mengetahui pH tanah masing-masing mereka akan dapat menentukan sendiri langkah apa yang akan dilakukan di lahannya masing-masing. Dan proses inilah yang disebut dengan proses penyadaran dan proses pemberdayaan, jadi bukan hanya kita berteori saja, apalagi menghadapi petani yang membutuhkan bukti bukan teori.

Gb.1. Hubungan pH tanah dan ketersediaan unsur hara

(Sarwono Hardjowigeno dalam Ilmu Tanah, 2003).

Alat dan Bahan

  1. Kertas lakmus pH tanah
  2. Air murni
  3. Sampel tanah milik petani
  4. Botol aqua gelas
  5. Pupuk kandang
  1. Abu dapur
  2. Arang sekam
  3. Urea
  4. Serbuk gergaji
  5. Alat tulis

Langkah-Langkah

  1. Siapkan sampel tanah / bahan lain yang akan diukur pH-nya
  2. Masukkkan sampel tanah / bahan yang akan diukur pH-nya ke dalam botol aqua gelas kurang lebih setinggi 2 cm
  3. Tambahkan air murni sampai mencapai tinggi sekitar 6 cm, sehingga perbadingan antara sampel dan air adalah 1 : 3
  4. Tutup botol aqua tersebut dengan plastik, lalu kocok hingga menjadi bercampur (menjadi larutan antara air dan sampel yang akan dikur pH-nya.
  5. Diamkan beberapa saat sampai tanah / sampel mengendap lagi
  6. Celupkan kertas lakmus (indikator pH) dalam larutan tadi sampai semua indikatornya tercelup beberapa saat.
  7. Tarik / ambil kertas lakmus tersebut dan cocokkan perubahan warna yang terjadi dengan warna indikator pH
  8. Catat pH masing-masing sampel

Dari hasil uji ini kita bisa mengajak petani untuk berdiskusi dan membahas tindak lanjut, bagaimana harus menyikapi pH tanah sawahnya yang rata-rata masih kurang dari normal. Dengan kegiatan semacam ini agar yang diharap oleh pengelola diawal yaitu membangkitkan semangat petani untuk menuju pertanian organik/semi organik atau yang lebih penting lagi adalah menjaga kesuburan tanah. Sehingga mampu berpengaruh dari kebiasaan mereka untuk berubah menjadi lebih baik.

Tabel Hasil Pengukuran pH Tanah

NO

SAMPEL

pH


NO




1

Kapur / dolomit

12


10

Sutrisno

5,3

2

Pupuk kandang

7,5


11

Pardji

5,2

3

Abu dapur / sekam

9


12

Sukiran

5,2

4

Serbuk gergaji

6,5


13

Suradi

5,5

5

Bpk. Towo

5,5


14

Darsono

5,3

6

Mujiono

5,4


15

Sukiran

5,2

7

Suyat

5,3


16

Nyono

5,1

8

Sugeng 1

6





9

Sugeng 2

5,2





Pertanyaan Diskusi :

  1. Pahamkah Bpk / Ibu dengan gambar 1 tersebut ? Jelaskan
  2. Bahan apa saja yang dapat digunakan untuk menaikkan pH tanah ? Bagaimana caranya
  3. Setelah mengetahui pH tanah masing-masing, apa rencana/ tindak lanjut dari proses ini ?

Dari hasil diskusi yang dilakukan, ada beberapa kesimpulan yang diambil, antara lain :

  1. Pemakaian pupuk organik dapat menaikkan pH tanah
  2. Ketersediaan unsur hara tanaman tersedia pada pH yang netral 6,5 – 7,5
  3. Petani sepakat untuk memproses pupuk kandang dengan bahan-bahan lain untuk menaikkan pH tanah maupun untuk melengkapi unsur hara yang dibutuhkan tanaman
  4. Petani merencanakan untuk membuat pupuk cair, agar kebutuhan tanaman yang belum bisa dicukupi dari akar akan dapat langsung tersedia di daun untuk proses fotosintesis




Foto Hasil Kegiatan



Posting Komentar