Minggu, 21 Maret 2010
PENINGKATAN KUALITAS AIR RUMAH TANGGA
Latar Belakang
Daerah sekitar telecenter Muneng Kabupaten Madiun mengandalkan air sumur untuk memenuhi kebutuahan sehari-hari, baik untuk mandi, cuci, masak, maupun untuk keperluan lain. Ada beberapa sumur penduduk yang kualitas airnya cukup baik, akan tetapi banyak dari sumur masyarakat yang secara kualitas kurang baik. Hal ini dapat dilihat dari warna air yang agak kuning, dan ada endapan bila didiamkan beberapa saat serta terdapat lapisan langit-langit tipis diatas permukaan air bila didiamkan. Dugaan dari masyarakat adalah bahwa air sumur milik masyarakat banyak mengandung kapur (CaOH) dan juga mengandung zat besi (Fe), kandungan kapur akan menyebabkan terdapat endapan agak keruh bila didiamkan/ diendapkan, dan warna air yang kuning disebabkan kandungan besi yang tinggi.
Sampai saat ini belum ada upaya yang dilakukan oleh masyarakat maupun pihak terkait dengan kondisi air yang seperti itu, “sejak dulu sudah seperti itu Mas, toh kami juga sehat-sehat saja, ngak terjadi apa-apa” begitu kata masyarakat ketika kita menanyakan tentang kualitas air di daerah Telecenter. Ada juga yang mengatakan masalahnya adalah pada saat musim penghujan tiba, cucian pakaian yang warnanya cerah (putih, kuning) bila tidak kering dalam satu hari akan ada noda agak kuning kecoklatan.
Upaya yang dilakukan oleh penduduk untuk air yang dipakai untuk memasak adalah dengan proses pengendapan. Proses ini sebenarnya cukup bagus untuk mengendapkan partikel yang Bj (berat jenis) partikel tersebut lebih berat dari air, sedangkan untuk partikel dengan berat jenis yang lebih ringan dari air akan mengapung dan mengakibatkan ada lapisan tipis diatas permukaan air.
Dari kondisi inilah menarik perhatian dari kami (pengelola Telecenter) untuk melakukan ujicoba penjernihan air agar secara kualitas akan lebih baik. Setelah mencari berbagai sumber, baik yang ada di internet maupun di literatur-literatur, kami belum menemukan teknologi yang tepat untuk kami coba, karena teknologi yang dikembangkan rata-rata teknologi yang tidak aplikatif di masyarakat. Kami beranggapan bahwa teknologi yang aplikatif memiliki ciri sebagai berikut :
- Bahan yang digunakan mudah dicari dan ada di lingkungan / masyarakat.
- Masyarakat bisa membuat sendiri
- Mudah dalam perawatan
- Sederhana
Inilah kriteria kami dalam membawa teknologi / pengetahuan baru ke masyarakat.
Ide Dasar
Berbagai informasi kami tampung, dan selalu kita diskusikan, akan tetapi belum pada titik temu satu alternatif yang aplikatif untuk kita ujicoba. Suatu saat kami berkunjung ke pasar ikan hias. Disitu banyak aquarium yang airnya senantiasa bersih, bening walau tidak diganti airnya, hanya mengandalkan filter sebagai penjernih saja. Dari sinilah ide kita muncul dan kita diskusikan untuk membuat rancangan ujicoba. Dari hasil diskusi yang kita lakukan akhirnya kita sepakat untuk membuat ujicoba dengan menggunakan prinsip dasar penjernihan aquarium yang kita modifikasi sedemikian rupa. Dari hasil diskusi intensif itulah akhirnya kami merancang ujicoba untuk penjernihan air sumur yang memenuhi prinsip-prinsip diatas (berbahan lokal, bisa buat sendiri, mudah perawatan, dan sederhana).
Skema Sirkulasi Air
Hasil diskusi yang kami lakukan, akhirnya kami sepakat untuk mencoba membuat percobaan dengan alur sirkulasi air seperti skema berikut :
Dari skema alur inilah akhirnya kita membuat ujicoba ini, adapaun alat dan bahan yang dibutuhkan serta langkah-langkah dalam pembuatan alat ini adalah sebagai berikut :
a. Alat dan Bahan
- Gunting
- Cutter
- Lem alteco
- Lem pralon
- Ember 2 buah
- Filter / saringan (kapas yang biasa digunakan untuk aquarium) 15 buah
- Selang plastik (ukuran menyesuaikan)
- Kaca (ukuran menyesuaikan ember)
b. Cara membuat
- Siapkan alat dan bahan tersebut
- Lubagi ember sesuai dengan besarnya selang.
- Masukkan selang (ukuran disesuaikan) ke ember yang telah dibuat lubang tersebut.
- Lem-lah selang tersebut dengan alteco, dan setelah kering ditambah dengan lem pralon agar tidak bocor.
- Tunggu hingga kering
- Siapkan kaca yang ukurannya disesuaikan dengan besarnya ember.
- Pasanglah filter, dan siap dipasang
Setelah kami berhasil membuat alat ini, kami lakukan ujicoba, tiap hari kita amati dan kita bandingkan airnya dengan yang tidak kami saring. Adapun hasil dari pengamatan yang kami lakukan ada beberapa kesimpulan :
NO | ASPEK | YANG TIDAK DISARING | YANG DISARING |
1 | Warna | Kekuningan | Bening |
2 | Endapan | Ada endapan di dasar bak | Tidak ada endapan di dasar bak |
3 | Lapisan permukaan | Ada lapisan tipis mengambang di permukaan | Tidak terdapat lapisan di permukaaan bak, masih terlihat bening |
Catatan : Pengamatan dilakukan sampai hari keempat.
Dari hasil aplikasi alat tersebut, kami menyimpulkan bahwa alat tersebut bermanfaat dan bisa dikembangkan dan disebarluaskan ke masyarakat, dan saat ini sedang kami buat leaflet / brosur untuk kita sebarkan ke masyarakat.
Perawatan
Perawatan alat ini sederhana yaitu dengan membersihkan filter / penyaring dengan air bersih minimal tiap satu minggu sekali (tergantung dari endapan / kualitas air yang disaring). Filter (spon) diambil dan disiram dengan air bersih, lalu diperas secara perlahan-lahan agar spon / filter tersebut tidak cepat rusak. Penggantian filter dapat dilakukan sesuai dengan kebutuhan dan juga melihat efektifitas dari filter itu sendiri.
Sebaiknya ember yang digunakan adalah ember yang ada tutupnya.
Selamat mencoba, inilah hasil karya kami, silakan untuk dikembangkan, dimodifikasi dan tentunya hasil aplikasinya kami tunggu.
Informasi lebih lanjut hubungi kami di Telecenter Muneng Kab Madiun


Posting Komentar